TIDAK ada yang berniat menyangkal. Ketika muncul pesan undangan silaturahmi alumni via Zoom, seketika disadari. Kami semua belum bisa move on.
Saya dan rekan-rekan Alumni Pelatihan untuk Pelatih/Training of Trainers (ToT) Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Angkatan 41 Lemhannas RI seolah masih terjebak dalam memori indah yang enggan berlalu.
Keseruan. Dinamika hingga kebersamaan itu masih membekas kuat. Tengok saja lini masa media sosial kami. Tampak masih banyak unggahan foto dan cerita masih dipenuhi momen-momen selama di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia.
Lelah? Sudah pasti. Menguras pikiran? Sangat. Namun, di balik itu semua ada kenikmatan proses yang luar biasa. Tak heran jika kenangan demi kenangan terus diputar ulang dan diabadikan sebagai dokumentasi paling bernilai mahal di tahun ini. Rasa-rasanya, hampir semua alumni merasakan gelombang emosi yang sama. Kalaupun tidak, mungkin sedang ada soal sama Bini atau lakinya hehe.
Man teman. Tak terasa. Sepuluh hari sudah berlalu sejak penutupan. Baru kemarin rasanya kami berdiri kaku di bawah garis kedisiplinan yang ketat. Gedung Tri Gatra. Kini, gelar Alumni ToT Angkatan 41 resmi melekat di dada, yoi Pin Lemhannas hehe.
Memori sembilan hari digembleng di Lemhannas masih sangat basah di ingatan. Mulai dari drama absensi pagi berdiri antre di depan meja panitia. Macam antre menerima BLT. Dengan mata yang masih setengah mengantuk, tetapi dipaksa fokus demi tidak terlambat.
Lalu, siapa yang bisa lupa dengan gema pukulan gong penanda berakhirnya jam istirahat? Suara nyaringnya kerap membuat jantung berdegup kencang secara mendadak. Meski, kopi di cangkir baru diseruput separuh dan kue basah masih dikunyah. Kini, kepanikan-kepanikan kecil nan menggelitik itu berubah menjadi rindu.
Momen di Lapangan Kopasgat AU pun menjadi catatan tersendiri. Di bawah terik matahari, basah oleh keringat dan berbaur debu, kami melebur saat outbound. Para akademisi, dosen, guru, hingga widyaiswara yang sehari-hari dikenal anggun dan penuh wibawa, seketika kembali menjadi anak-anak yang gembira. Kami tertawa lepas, saling tarik, dan bahu membahu menuntaskan setiap rintangan. Ingat yel-yel kami. Mana semangatmu. Ini… Ini… Semangatku hehehe.
Semua proses berat itu bukan sekadar formalitas pelatihan, melainkan ada rajutan benang-benang persaudaraan kami.
Untuk menahkodai perjalanan panjang alumni ini, amanah kepemimpinan Angkatan 41 resmi dipercayakan kepada Prof. Dr. Ahalik sebagai Ketua Angkatan.
Namun, seperti yang beliau sadari, kepemimpinan ini tak akan berarti apa-apa tanpa ditopang oleh bahu dan pemikiran hebat seluruh alumni. Wadah Alumni Angkatan 41 bukanlah panggung tunggal seorang ketua, melainkan rumah bersama untuk menjaga nyala semangat kebangsaan.
Meski kini jarak membentang dan sapaan lebih banyak diwakili oleh riuhnya grup WhatsApp, jangan biarkan ikatan yang telah ditempa dengan keringat ini mengendur.
Sebagaimana dipesankan oleh Prof. Ahalik:
“Sembilan hari kita ditempa untuk menyerap nilai-nilai kebangsaan, tetapi selamanya kita bertanggung jawab merawat persaudaraan ini demi memberi kontribusi nyata bagi negeri.” Ucapnya.
Sebagai langkah awal tancap gas, Prof. Ahalik mengundang seluruh rekan-rekan untuk hadir dalam Silaturahmi Kebangsaan & Pembentukan Pengurus Angkatan 41, yang dirangkai dengan Sesi Reuni & Bincang Santai.
Mengusung tema “Bersama Mengembangkan Kompetensi, Memperkuat Silaturahmi, dan Berkontribusi untuk Negeri”, acara ini juga akan menghadirkan narasumber dari alumni kita sendiri, Prof. Dr. Septi Andryana, S.Kom., M.MSi, yang akan membagikan wawasan berharga terkait Tips & Trik Karier Dosen Hingga Menjadi Guru Besar.
Mari luangkan waktu dan hadir bersama. Kehadiran kita adalah simpul kekuatan yang akan membawa dampak nyata. Terbaik, Terdepan, Agen Perubahan. (*)












