Dorong Jaga Kelestarian Hutan Kotim

Ketua Fraksi Nasdem DPRD Kotim, Syahbana, S.P

SAMPIT, RAKYATKALTENG – Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Syahbana menyebutkan banjir di Kalimantan Selatan harus jadi pembelajaran. Terkhusus untuk semua pihak terkait untuk memperhatikan dan mempertahankan sisa hutan yang ada. Supaya tidak lagi digarap dan dikoiversi menjadi lahan perusahaan perkebunan sawit.

“Banjir ini terjadi sangat memprihatinkan, saudara kita di Kalimantan Selatan saat ini sedang susah. Banyak pelajaran berharag yang kita petik dari sana. Salah satunya adalah mengenai ketersedian hutan sebagai tempat resapan itu hukumnya wajib dipertahankan. Tidak ada lagi perluasan perkebunan kelapa sawit yang membabat sisa hutan kita,” tegasnya, Rabu (3/5/2023)

Menurutnya, lokasi rawan banjir di Kotim setiap tahunnya ada terdapat di 10 kecamatan, 14 kelurahan dan 65 desa.

Lokasi rawan banjir itu sebagian besar di wilayah Utara atau kawasan hulu Sungai Mentaya. Banjir juga rawan terjadi di kawasan kota Sampit yang meliputi Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang. Pemicunya adalah kurang maksimalnya fungsi drainase sehingga air sering meluap ke jalan dan permukiman saat hujan deras, apalagi jika bersamaan dengan sungai sedang dalam kondisi pasang.

Disinggung mengenai sisa hutan, Syahbana menyebutkan sudah diangka kritis.Dia mengaku belum mengetahui persis berapa besar berkurangnya kawasan hutan di Kotim. Dia mengaku hanya mendapat informasi bahwa hutan di kabupaten ini sekitar 25 persen. Selain mengingatkan pentingnya menjaga hutan, dua mengajak masyarakat membersihkan lingkungan.

Sampah seperti batang pohon dan sampah lainnya yang menutup anak sungai harus bersihkan agar arus air selalu lancar sehingga anak sungai tidak sampai meluap ketika terjadi hujan deras.

Berdasarkan peta, kawasan hutan di Kotim masih ada sebesar 70 persen dari luas wilayah kabupaten ini. Namun dengan pembukaan lahan, khususnya untuk perkebunan kelapa sawit, sisa hutan saat ini diperkirakan tersisa hanya sekitar 30 persen dari 1.55 juta hektare total luas wilayah Kotim. Menurutnya, idealnya kawasan hutan yang tersisa minimal 40 persen, sedangkan 60 persennya digunakan untuk pemanfaatan lainnya seperti investasi kehutanan dan perkebunan, termasuk juga permukiman.

Kondisi ini diduga akibat ulah manusia yang tidak memikirkan kelestarian lingkungan untuk jangka panjang. Jika tidak dilestarikan, hutan Kotim dikhawatirkan akan terus menyusut dan dikhawatirkan membawa dampak buruk bagi lingkungan, seperti terjadinya banjir dan lainnya.(AD)

error: Content is protected !!