Jakarta, Mei 2026. Di dalam ruang-ruang megah Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, sebuah tempat di mana para elite pemikir dan penentu kebijakan bangsa digembleng, ada satu nama yang mencuri perhatian. Ia adalah Dr. Lukmanul Hakim, S.E., M.AP.
Bagi masyarakat Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, sosok Doktor Muda ini bukan orang asing. Ia kerap dijuluki sebagai “Doktor Pucuk Jawaw”, sebuah personifikasi ASN di Bapplitbangda yang merakyat namun berotak cemerlang.
Rekam jejaknya di daerah begitu kontras sekaligus mengagumkan: memimpin kaum intelektual sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Murung Raya, membentengi generasi muda sebagai Ketua Gerakan Anti Narkoba (Ganas Anar) MUI, hingga menggerakkan aksi kemanusiaan yang paling sunyi—membentuk Komunitas Penggali Kubur (KPK).
Namun, jujur saja, banyak yang semula tidak memperhitungkan sepak terjangnya di kancah nasional. Ketika ia melangkah menuju Jakarta, ia memecah mitos. Dr. Lukmanul Hakim resmi menjadi pentolan pertama putra asli Murung Raya yang berhasil menembus pendidikan sangat bergengsi di Lemhannas RI.
Dayak dan Indonesia: Membawa Suara Pedalaman ke Panggung Nasional
Lahir dan tumbuh di Puruk Cahu, sebuah wilayah di jantung Pulau Kalimantan, tidak pernah membuat nyali Lukmanul kecil. Sebaliknya, identitas sebagai “Anak Dayak Pedalaman” justru menjadi bahan bakar spiritual yang membakar semangatnya di Lemhannas.
Ia datang bukan sekadar untuk hadir dan duduk di bangku kelas. Ia datang untuk bersuara, membawa perspektif daerah yang selama ini jarang terdengar di pusat kekuasaan.
Kejutan besar pun terjadi. Di lembaga yang diisi oleh orang-orang hebat se-Indonesia tersebut, Dr. Lukmanul Hakim berhasil terpilih sebagai salah satu peserta pemapar materi terbaik. Tidak hanya itu, substansi materi yang diangkat dan disajikannya dinilai sebagai salah satu yang terbaik oleh para penguji. Sebuah pembuktian telak bahwa kualitas intelektual anak pedalaman Kalimantan mampu bersaing—bahkan unggul—di tingkat nasional.
“Suatu kebanggaan luar biasa bagi kami suku Dayak, khususnya saya orang Dayak pedalaman yang hidup di tengah pulau Kalimantan. Bisa menginjakkan kaki di lembaga yang sangat prestisius ini, dan diakui di sana, adalah sebuah kehormatan bagi daerah kami,” ungkap Lukmanul dengan mata berbinar, merefleksikan pencapaiannya.
Sinergi dan Terima Kasih dari Jantung Kalimantan
Keberhasilan menembus Lemhannas dan menorehkan prestasi di sana diakui Lukmanul sebagai buah dari kerja keras kolektif dan dukungan tak terhingga dari tanah kelahirannya.
Secara khusus, Dr. Lukmanul Hakim menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi tertingginya kepada Pemerintah Kabupaten Murung Raya. Dukungan penuh dari Bapak Bupati, Bapak Wakil Bupati, Bapak Sekretaris Daerah (Setda), Kepala Bappedalitbang, serta Kepala BKPSDM Kabupaten Murung Raya menjadi pilar utama yang memuluskan langkahnya menuju Jakarta.
Tak lupa, apresiasi juga dialamatkan kepada para sponsor dan keluarga besar yang terus mengalirkan doa serta dukungan, baik yang tampak maupun yang bergerak dalam senyap.
Catatan Refleksi: Menginspirasi Generasi Emas Murung Raya
Langkah Dr. Lukmanul Hakim di Lemhannas RI bukan sekadar pencapaian pribadi seorang aparatur sipil negara atau seorang doktor muda. Ini adalah sebuah pesan kuat bagi seluruh anak muda di Murung Raya, di Kalimantan Tengah, dan di seluruh pelosok negeri: bahwa keterbatasan geografis bukanlah batas dari sebuah pencapaian.
Dari bumi Tira Tangka Balang, seorang anak Dayak pedalaman telah menunjukkan bahwa narasi lokal bisa bertransformasi menjadi gagasan nasional yang memukau. Dari Puruk Cahu untuk Indonesia, sebuah salam hormat dan pembuktian telah dikirimkan langsung dari Lemhannas RI, Jakarta.
Atas keberhasilan di bangku Lemhanas, ia dipercaya untuk menjadi Sekretaris Umum Alumnus TOT 37 Lemhannas RI.
Murung Raya bangga, Kalimantan Tengah berjaya!












