Potensi Bentrok Kian Terbuka di Sengketa Warga dan PT BSP

Ilustrasi

RAKYATKALTENG.com SAMPIT – Situasi di kawasan Irigasi Danau Lentang, Desa Luwuk Bunter, Kecamatan Cempaga, semakin memanas. Sengketa lahan antara warga dan perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT Borneo Sawit Perdana (NSSS Group), kini berada pada titik rawan dengan ancaman bentrok terbuka yang kian nyata.Warga yang memiliki lahan mulai melakukan mobilisasi masa ke lahan untuk berjaga sejak sore tadi.

Sabtu (14/2/2026), aktivitas perusahaan kembali terlihat di lahan yang masih disengketakan. Bibit sawit mulai dimasukkan ke area yang sebelumnya telah dilakukan land clearing. Padahal, lahan tersebut diklaim warga sebagai bagian dari kawasan jaringan irigasi Danau Lentang yang selama ini menjadi sumber pengairan kebun masyarakat.

Langkah tersebut memicu ketegangan baru. Warga yang merasa haknya diabaikan menyatakan siap bertahan apabila aktivitas penanaman tetap dipaksakan tanpa kejelasan status hukum lahan.

“Sore ini mereka diam-diam memasukkan bibit ke lahan kami. Dan kali ini tidak ada kata lain selain kami melawan di lahan ini,” ujar John Hendrik, salah seorang pemilik lahan.

Menurutnya, area yang telah diratakan kini dijaga sejumlah orang untuk memastikan proses tanam berjalan. Situasi ini dinilai mempersempit ruang dialog dan meningkatkan risiko gesekan langsung di lapangan.

“Awalnya mereka kerjakan land clearing sampai alat ditarik keluar. Sempat tidak ada aktivitas setelah saya layangkan somasi. Tapi hari ini mereka mulai lagi,” katanya.

John menegaskan dirinya telah menempuh jalur administrasi melalui surat peringatan sebagai upaya penyelesaian hukum. Namun, dengan kembalinya aktivitas perusahaan di atas lahan sengketa, potensi benturan dinilai semakin terbuka.

“Saya sudah tempuh jalur administrasi. Kalau perusahaan memaksakan untuk merampas tanah kami, kami tidak akan diam. Tidak menutup kemungkinan di lapangan nanti akan ada gesekan. Pilihan terakhir untuk bertahan di lahan adalah alternatif terakhir yang harus kami lakukan untuk mempertahankan tanah kami ini,” tegasnya.

Dengan kondisi ini kedua belah pihak sama-sama bertahan pada klaim masing-masing, situasi di kawasan Irigasi Danau Lentang kini memasuki fase kritis. Tanpa langkah cepat dan terukur untuk meredam ketegangan, ancaman bentrok di lapangan bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan risiko nyata yang dapat terjadi sewaktu-waktu sejak perusahaan tidak memggubris dan membuka ruang dialog dengan warga tersebut.(rk2)