RAKYATKALTENG.com SAMPIT – Ketegangan di kawasan irigasi Danau Lentang, Desa Luwuk Bunter, Kecamatan Cempaga, memuncak pada Minggu (16/2/2026), saat sengketa lahan antara warga dan pihak perusahaan kembali memanas hingga nyaris berujung bentrok bersenjata tajam.
Peristiwa bermula ketika PT Borneo Sawit Perdana (BSP) melanjutkan aktivitas penggarapan dan penanaman kelapa sawit di lahan yang masih dalam status sengketa. Alat berat beroperasi dan ratusan bibit sawit mulai ditanam di area yang diklaim sebagai milik Hendrik bersama keluarganya.
Mengetahui hal tersebut, Hendrik dan sejumlah pendukungnya mendatangi lokasi untuk menghentikan kegiatan. Mereka meminta agar alat berat segera dikeluarkan dari areal yang diperselisihkan. Namun di sisi lain, muncul kelompok yang mengaku sebagai pemilik sah lahan dan menyatakan telah menjualnya kepada pihak perusahaan.
Adu klaim pun tak terhindarkan. Kedua kubu bersikukuh pada posisi masing-masing dan suasana berubah tegang. Aparat desa sempat turun tangan untuk meredam situasi, namun emosi massa sudah terlanjur memuncak.
Saksi mata menyebutkan, kericuhan terjadi saat salah satu pihak terpancing emosi hingga terjadi aksi saling kejar di tengah lahan yang baru ditanami. Situasi semakin mencekam ketika kedua belah pihak dikabarkan sama-sama menghunus mandau dari pinggang masing-masing.
“Sudah sama-sama tarik mandau. Kalau terlambat sedikit saja, mungkin sudah ada yang terluka,” ujar seorang warga di lokasi.
Beruntung, sejumlah warga lainnya sigap melerai sebelum bentrok fisik benar-benar terjadi. Ketegangan perlahan mereda meski suasana masih diliputi rasa waswas.
Kepala Desa Luwuk Bunter, Kurnainoor, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengakui situasi pada saat itu sangat mengkhawatirkan karena kedua pihak sama-sama tersulut emosi.
“Benar, kejadian itu terjadi hari ini. Kedua belah pihak sudah sama-sama menarik senjata tajam. Untungnya cepat dilerai warga,” ujarnya.
Menurutnya, konflik ini kembali berulang karena persoalan dasar belum menemukan titik penyelesaian, sementara aktivitas penggarapan tetap berjalan. Ia pun berharap semua pihak menahan diri dan menempuh jalur mediasi atau hukum agar permasalahan tidak berkembang menjadi kekerasan terbuka.(rk2)












