Karhutla Mulai Meningkat, Faridawaty Ingatkan Pentingnya Pencegahan Sejak Dini

Anggota Komisi III DPRD Kalteng, Faridawaty Darland Atjeh. (ist)

PALANGKA RAYA, RAKYATKALTENG.com — Kolaborasi erat antara petugas gabungan dan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam mempercepat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng).

Respons cepat sejak kemunculan indikasi titik api dinilai sangat krusial guna mencegah kebakaran meluas, khususnya di wilayah rawan selama musim kemarau.

Keterlibatan warga sekitar sangat krusial sejak tahap deteksi awal. Laporan cepat masyarakat terkait munculnya asap atau titik api memungkinkan petugas langsung bergerak melakukan verifikasi serta penanganan di lapangan sebelum api tak terkendali.

Operasi penanggulangan karhutla di Kalteng terus memperkuat sinergi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, BPBD/BPBPK, TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga warga lokal.

Seluruh elemen berbagi peran mulai dari patroli, pelaporan, pemadaman, hingga pendinginan lahan guna memastikan api tidak kembali menyala.

Berdasarkan data BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah, sepanjang 1 Januari hingga 15 Juli 2026 tercatat 472 kejadian karhutla. Khusus pada 15 Juli 2026 saja, terpantau 34 titik panas dengan 23 kejadian karhutla dan estimasi luas lahan terbakar mencapai 14,24 hektare.

Operasi penanganan saat itu didukung oleh 238 personel gabungan serta empat unit helikopter untuk patroli udara, pemantauan titik panas, dan dukungan pemadaman.

Karakteristik lahan gambut di Kalteng menuntut tindakan pemadaman yang cepat, terukur, dan berkelanjutan. Menyikapi situasi tersebut, Anggota Komisi III DPRD Kalimantan Tengah, Faridawaty Darland Atjeh, mengingatkan seluruh pihak agar tetap siaga dan tidak lengah.

“Peristiwa karhutla yang mulai terjadi ini harus menjadi peringatan bagi kita semua. Jangan sampai kebakaran semakin meluas karena kelalaian atau aktivitas pembakaran lahan,” ujar Anggota Komisi III DPRD Kalteng, Faridawaty Darland Atjeh, baru-baru ini.

Faridawaty menegaskan bahwa aspek pencegahan jauh lebih efektif ketimbang menanggulangi api yang sudah membesar. Oleh karena itu, pengawasan harus diperketat melalui patroli rutin di kawasan rawan, pemantauan berkala, dan penanganan seketika pada setiap titik api yang terdeteksi.

Ketua DPW Partai NasDem Kalteng tersebut juga menggarisbawahi bahwa penanganan karhutla tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada petugas pemadam atau pemerintah saja. Sinergi dengan warga sangat menentukan karena masyarakat berada di posisi terdekat dengan lokasi rawan.

“Karhutla harus diantisipasi sejak dini karena dampaknya tidak hanya terhadap lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat,” kata Faridawaty Darland Atjeh.

Partisipasi aktif warga dalam memberikan laporan dini menjadi kunci penting. Dengan informasi yang cepat, petugas dapat segera mengukur kebutuhan personel, peralatan, serta menentukan teknik pemadaman yang tepat.

Langkah ini melengkapi upaya pemerintah yang terus memantapkan patroli terpadu, pemantauan titik panas, penyediaan sumber air, hingga kesiapan sarana prasarana penanggulangan bencana. (RK1)