Digerebek Mertua, Oknum Kades Kepergok Asik Bersama Janda

Karikatur

RAKYATKALTENG.com SAMPIT – Dugaan skandal moral menyeret nama seorang oknum kepala desa di Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Pejabat desa tersebut diduga tertangkap basah tengah berduaan dengan seorang perempuan bukan istrinya di kediamannya yang berada di Perumahan Wengga Metropolitan, Sampit belum lama ini.

Penggerebekan dilakukan langsung oleh orang tua serta keluarga dari istri sah kepala desa itu. Peristiwa ini disebut sebagai puncak dari konflik rumah tangga yang telah lama terjadi, menyusul perubahan sikap dan perilaku sang kades yang menimbulkan kecurigaan keluarga.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, perempuan yang berada di rumah tersebut merupakan warga dari salah satu desa di Kecamatan Kota Besi. Keberadaannya di rumah pribadi kepala desa pada malam hari memicu pertanyaan serius terkait etika, moralitas, serta kepantasan seorang pejabat publik yang seharusnya menjadi teladan di tengah masyarakat.

“Kejadiannya sudah sekitar seminggu lalu. Yang menggerebek itu keluarga dari pihak istrinya langsung di rumah kades yang di Sampit,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan identitasnya.

Insiden tersebut sontak menghebohkan warga sekitar. Bahkan, pada malam kejadian, terlihat sejumlah anggota kepolisian serta beberapa pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kotim berada di lokasi. Situasi disebut sempat memanas, dengan adu mulut dan emosi yang sulit dikendalikan.

“Katanya memang sempat ribut di dalam rumah. Mertua kades itu histeris. Ada polisi juga malam itu,” ungkap sumber tersebut.

Meski belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum, peristiwa ini memantik sorotan tajam publik. Sebagai pejabat desa, kepala desa tidak hanya memegang mandat administratif. Dugaan pelanggaran etika semacam ini dinilai dapat mencederai kepercayaan masyarakat serta mencoreng marwah pemerintahan desa.

Publik kini menanti sikap tegas dari Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) untuk menindaklanjuti dugaan pelanggaran tersebut. Transparansi dan penegakan etika dinilai penting agar kasus serupa tidak dianggap sepele atau ditutup-tutupi.

Hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum memberikan klarifikasi, begitu pula pihak kepolisian yang belum menyampaikan keterangan resmi terkait status dan penanganan peristiwa tersebut.(rk2)