Tongkang Melintas di Kolong Bajarum Tanpa Kapal Assist, Warga Khawatir Jembatan Kembali Ditabrak

Tongkang melintas di bawah Jembatan Mentaya (Bajarum). Warga meminta pengawasan pelayaran diperketat menyusul riwayat tabrakan tongkang pada 2013 dan insiden fender Jembatan Cempaga yang baru-baru ini disenggol tongkang CPO.

RAKYATKALTENG.com SAMPIT – Melintasnya sebuah tongkang di bawah Jembatan Mentaya atau Jembatan Bajarum tanpa terlihat didampingi kapal assist memicu kekhawatiran warga. Mereka berharap pengawasan terhadap lalu lintas angkutan sungai diperketat agar insiden tongkang menabrak jembatan tidak kembali terulang.
Kekhawatiran itu disampaikan Tasrif, salah seorang warga yang menyaksikan langsung tongkang melintas di bawah jembatan (25/7/2026). Menurutnya, pengalaman pahit yang pernah terjadi seharusnya menjadi pelajaran agar standar keselamatan pelayaran diterapkan secara ketat.

“Jangan sampai Jembatan Bajarum kembali disenggol tongkang. Kita masih ingat kejadian beberapa tahun lalu yang menyebabkan kerusakan dan mengganggu aktivitas masyarakat karena akses transportasi sempat terdampak. Peristiwa seperti itu tidak boleh terulang. Keselamatan pelayaran dan keamanan jembatan harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Ia menegaskan, Jembatan Bajarum merupakan salah satu infrastruktur vital di Kotawaringin Timur yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat dan distribusi barang. Karena itu, setiap tongkang yang melintas di bawah jembatan harus memenuhi seluruh prosedur keselamatan agar tidak membahayakan pengguna sungai maupun jembatan.

Peristiwa yang dikhawatirkan warga itu pernah benar-benar terjadi pada 2013 silam. Saat itu, tongkang Manna Lines yang ditarik tugboat KM TOB 07 menabrak pelindung Jembatan Mentaya ketika melintas di Sungai Mentaya dari arah Desa Kandan. Tongkang dan tugboat tersebut merupakan alat angkut sewaan yang membawa bijih besi dari perusahaan tambang yang beroperasi di Kecamatan Kotabesi. Insiden itu mengakibatkan pelindung jembatan mengalami kerusakan dan sempat mengganggu aktivitas transportasi masyarakat.

Kekhawatiran masyarakat semakin menguat setelah belum lama ini fender tiang Jembatan Cempaga juga disenggol tongkang bermuatan crude palm oil (CPO). Dua insiden pada dua jembatan berbeda itu dinilai menjadi alarm serius agar pengawasan terhadap lalu lintas pelayaran di Sungai Mentaya diperketat sebelum menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Warga pun mendesak KSOP Kelas III Sampit bersama instansi terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan pelayaran, termasuk memastikan setiap tongkang yang melintas di bawah jembatan didampingi kapal assist apabila diperlukan sesuai prosedur keselamatan. Mereka berharap tidak ada lagi kelalaian yang berpotensi mengancam infrastruktur strategis maupun keselamatan masyarakat.(rk2)