Rakyatkalteng, Muara Teweh – Ikuti rakor penanggulangan karhutla di Aula Kecamatan Teweh Selatan, Selasa (15/09/2026), Ketua DPRD Kabupaten Barito Utara Hj Mery Rukaini turut menyoroti dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap masyarakat, khususnya keberlangsungan aktivitas pendidikan.
Dikatakan Hj Mery, dimana pada kondisi kabut asap yang telah dirasakan masyarakat Barito Utara selama hampir dua bulan ini, sangat berdampak, tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga berpengaruh terhadap kegiatan belajar mengajar.
“Sudah Agustus, September, hampir dua bulan kita dilanda asap tebal seperti ini. Dampaknya sangat terasa bagi masyarakat, terutama anak-anak yang bersekolah, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA,” ujarnya.
Hal ini menurut Hj Mery, Ketua DPRD Barut tersebut, anak-anak usia TK dan SD menjadi salah satu kelompok yang rentan terdampak kondisi kabut asap. Selain berpotensi mengganggu kesehatan dan aktivitas mereka, kondisi tersebut juga membuat proses pembelajaran tidak berjalan secara maksimal.
Lebih lanjut, dalam beberapa hari terakhir kondisi cuaca sempat membaik sehingga siswa dapat kembali mengikuti pembelajaran tatap muka. Namun, kondisi tersebut masih belum dapat dipastikan apabila kabut asap kembali menebal.
“Dua-tiga hari yang lalu kelihatan cuaca sudah mulai cerah. Anak-anak bisa bersekolah mulai Senin sampai hari ini. Entah besok bisa bersekolah atau tidak,” katanya.
Apabila kondisi kembali memburuk, siswa SMP dan SMA dapat mengikuti pembelajaran secara daring dari rumah, sementara siswa SD mendapatkan tugas belajar dari guru. Namun, menurut Hj Mery, metode tersebut tetap tidak dapat menggantikan efektivitas pembelajaran tatap muka.
“Kalau yang SMP dan SMA melakukan daring dari rumah, sedangkan SD ada tugas-tugas belajar dari guru. Tapi itu tetap saja mengurangi pembelajaran mereka, tidak maksimal,” jelasnya.
Karena itu, ia menegaskan penanganan karhutla harus menjadi perhatian bersama. Terlebih, keterbatasan sarana dan prasarana masih menjadi tantangan dalam menjangkau sejumlah titik api yang lokasinya jauh dari akses jalan.
“Spot-spot api yang terdapat di lahan terbakar itu sangat jauh dari jalan. Kita harus membuat sekat-sekat, sementara alat-alat yang digunakan juga sangat terbatas,” ungkapnya.
Hj Mery mendukung adanya kerja sama antara pemerintah daerah dan perusahaan dalam memperkuat sarana penanggulangan karhutla. Ia berharap dukungan tersebut mencakup peralatan, personel hingga operator.
“Seandainya Pak Bupati bersama perusahaan yang ada di lingkup Pemerintah Kabupaten Barito Utara bisa melakukan pinjam pakai, dengan personel dan operatornya. Bukan hanya meminjamkan alat,” ujarnya.
Ia juga mendukung langkah pencegahan melalui pembuatan maklumat bersama serta upaya lain yang dapat mencegah masyarakat melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.
Menurutnya, peningkatan titik api harus menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk memperkuat sinergi. “Marilah kita bersama-sama memikirkan penanggulangan hal ini,” ajaknya.
Ketua DPRD juga menegaskan bahwa karhutla telah menjadi isu sentral di berbagai wilayah Kalimantan Tengah sehingga membutuhkan penanganan secara bersama-sama.
“Karhutla ini bukan di daerah kita Barito Utara saja. Hampir setiap kabupaten yang ada di Kalimantan Tengah sudah menjadi isu sentral,” katanya.
Ia memastikan DPRD Kabupaten Barito Utara akan terus mendukung langkah pemerintah daerah dalam menangani karhutla serta memperjuangkan kepentingan masyarakat yang terdampak, termasuk masyarakat yang aktivitasnya terganggu akibat kabut asap.












