PURUK CAHU, RAKYATKALTENG.com – Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya (Mura) Daerah Pemilihan (Dapil) II yang meliputi Kecamatan Tanah Siang, Laung Tuhup, dan Barito Tuhup Raya, yakni Rumiadi, Dina Maulidah, Tuti Marheni, Bebie, Barlin, Susilo, Mariyanto, Liangsoi, dan Kabik Amaz Jasikha, telah melaksanakan kegiatan reses selama enam hari, mulai 30 Juni hingga 5 Juli 2026.
Seluruh hasil reses yang telah dihimpun kemudian disampaikan dalam Rapat Paripurna Masa Sidang II DPRD Murung Raya. Dalam kesempatan tersebut, Bebie bertindak sebagai juru bicara Dapil II.
Mengawali penyampaiannya, Bebie mengatakan seluruh aspirasi masyarakat telah didokumentasikan secara lengkap. Namun, mengingat luasnya wilayah Dapil II serta banyaknya usulan yang diterima, tidak seluruh aspirasi dibacakan satu per satu dalam rapat, meskipun semuanya tetap akan disampaikan kepada pemerintah daerah untuk ditindaklanjuti.
Untuk wilayah Kecamatan Tanah Siang Bebie menyampaikan untuk kegiatan reses di Kelurahan Saripoi yang juga dihadiri masyarakat Desa Kerali dan Mengkolisoi, masyarakat mengusulkan pembangunan gedung gereja baru, penambahan ruang Posyandu Desa Kerali, pengadaan bibit ikan dan pakan bagi kelompok tani Desa Kerali.
Selain itu, masyarakat juga mengusulkan pembangunan jembatan Sungai Mengkaro yang menghubungkan Desa Belawan, Kalang Kaluh, dan Mengkolisoi.
“Dan yang paling urgen pembangunan jembatan Sungai Mengkaro menuju Desa Belawan, Kalang Kaluh, Mengkolisoi,” kata Bebie di hadapan Kepala Dinas PUPR Murung Raya yang turut menghadiri rapat tersebut.
Usulan lainnya meliputi lanjutan pembangunan jalan cor beton dari Desa Kerali menuju Mengkolisoi, perbaikan jembatan gantung di Kelurahan Saripoi, perbaikan kanopi masjid, pengadaan marbot masjid, pengadaan sarana produksi pertanian bagi kelompok tani, pengadaan mesin USG, vaksin rabies untuk Puskesmas Saripoi, serta pengadaan ATK dan mobiler bagi Kantor Desa Kerali, Kelurahan Saripoi, dan Desa Mengkolisoi.
Sementara itu, masyarakat Desa Nonok Kliwon dan Desa Olung Ulu mengusulkan pembangunan WC bagi rumah tangga kurang mampu.
Selain itu dalam paparannya, Bebie juga menyoroti persoalan debu di jalan hauling yang melintasi sejumlah desa. Ia meminta agar penyiraman jalan dilakukan sesuai standar pertambangan karena kondisi saat ini dinilai membahayakan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, ruas jalan dari Desa Osom Tompok menuju Desa Bumban merupakan salah satu titik yang paling membutuhkan perhatian.
“Penyiraman yang dilakukan oleh pihak perusahaan bekerja sama dengan desa itu sangat tidak sesuai dan tidak standar secara tambang. Nah, ini tolong menjadi perhatian teman-teman DPRD dan juga pihak pemerintah supaya menggunakan standar penyiraman tambang. Jangan sampai tiga atau empat tahun ke depan rumah sakit dipenuhi masyarakat dengan keluhan tuberkulosis atau penyakit paru. Ini menjadi perhatian kita bersama,” tegas Bebie.
Ia juga menyampaikan masyarakat mengusulkan bantuan pembangunan gedung, pengadaan WC, penataan halaman, serta pengadaan sound system untuk Gereja GPDI Desa Olung Ulu.
Selain itu, masyarakat mengusulkan pengecoran jalan RT 3 Desa Olung Ulu, bantuan sarana dan prasarana bola voli, serta bantuan sarana mobilisasi bagi anak-anak sekolah di RT 3 Desa.
Bebie kembali mengingatkan bahaya debu jalan hauling yang setiap hari dilalui para pelajar dari Desa Mantiat Pari, Olung Ulu, dan Osom Tompok menuju Saripoi.
“Kembali lagi menyangkut debu, karena mereka naik motor dari Desa Mantiat Pari, Olung Ulu, Osom Tompok menuju Saripoi. Ini sangat tidak safe atau tidak aman dan juga tidak sehat bagi anak-anak sekolah kita,” ujarnya.
Masyarakat juga mengusulkan pembangunan WC bagi keluarga kurang mampu, lanjutan pengecoran jalan, serta pembangunan jalan menuju pemakaman Desa Olung Ulu yang telah diusulkan sejak tiga hingga empat tahun lalu sempat diusulkan dan direncakan namun belum terlaksana.
Menurut Bebie, saat musim banjir warga harus menyeberangi sungai yang kedalamannya mencapai leher untuk membawa peti jenazah menuju lokasi pemakaman.
“Untuk jalan ke kuburan Desa Olong Ulu sehingga di saat banjir di saat ada warga yang meninggal jadi susah harus menyebrang sungai yang dalamnya sampai leher untuk membawa peti mayat di desa Olong Ulu itu menjadi perhatia,” ujarnya.
Untuk Desa Kolam, masyarakat mengusulkan perbaikan jalan yang saat ini sebagian telah ditinjau langsung oleh Dinas PUPR bersama anggota DPRD saat pelaksanaan reses.
Selain itu diusulkan pula lanjutan pengecoran jalan dari simpang Desa Kolam menuju Desa Kolam, pengecoran jalan dari Desa Kolam menuju Desa Saruhung, serta perbaikan jembatan rusak dari Desa Saruhung menuju Desa Soloi.
Di bidang pendidikan, lanjutan pembangunan gedung ruang sekolah saat ini untuk kantor sekolah SDN Desa Kolam belum selesai hanya dipasang atap dan lantai, pintu juga untuk ruang kelas juga belum selesai.
“itu bukan proyek mangkrak tetapi memang dananya hanya cukup sampai di situ sehingga diperlukan lanjutan pembangunan sehingga anak-anak sekolah bisa maksimal mengingat dari kelas 1 sampai kelas 6 saat ini di desa kolam itu mereka hanya menggunakan tiga ruangan secara bergantian untuk sekolah Nah ini sangat urgen Menurut kami dan juga di SMP kolam itu smp-nya hanya ada 3 guru Bapak Ibu ya,” ujarnya.
Selain itu, SMP Kolam juga mengalami kekurangan tenaga pendidik. Saat ini sekolah hanya memiliki tiga guru, terdiri dari satu kepala sekolah dan dua tenaga pengajar, sehingga dinilai belum efektif melayani jumlah siswa yang cukup banyak.
Masyarakat Desa Kolam juga mengusulkan bantuan alat pertanian bagi kelompok tani seperti mesin senso dan peralatan lainnya, penyediaan sarana air bersih, penambahan tenaga kesehatan, serta pengecoran halaman SD Desa Kolam.
Masyarakat Desa Saruhung mengusulkan penyediaan sarana air bersih, pengadaan alat bermain untuk TK, serta pengadaan mobiler bagi kantor desa.
Desa Olong Soloi mengusulkan pengadaan mobiler kantor desa serta bantuan bibit pertanian.
Masyarakat Desa Mengkolisoi mengusulkan perbaikan dua jembatan di RT 1 dan RT 3, perbaikan jalan dalam desa, serta program rehabilitasi atau bedah rumah bagi warga yang memiliki rumah tidak layak huni.
Di Desa Kalang Kaluh, masyarakat mengusulkan lanjutan pembangunan Gereja GKE, pembangunan kantor BPD yang hingga kini belum tersedia, pembangunan jembatan menuju Desa Tumbang Kolon, pengecoran jalan menuju Desa Kolon, serta pembangunan sarana air bersih berupa sumur bor.
Sementara itu, masyarakat Desa Tokung mengusulkan penambahan sarana air bersih karena fasilitas yang ada dinilai masih belum mencukupi. Sebelumnya, melalui Dinas PUPR telah diberikan bantuan sekitar 800 batang pipa, namun masyarakat masih dan mereka minta untuk penambahan untuk pembangunan terkait sarana air bersih.
Selain itu, masyarakat juga mengeluhkan minimnya tenaga kesehatan. Bahkan, menurut informasi yang diterima dari masyarakat, petugas kesehatan kerap tidak berada di tempat. Kondisi serupa disebut tidak hanya terjadi di Desa Tokung, tetapi juga di sejumlah desa lain di wilayah Kecamatan Tanah Siang.
Masyarakat Desa Tokung juga mengusulkan pengadaan bibit ikan, bibit tanaman, serta perbaikan rumah dinas guru yang kondisinya dinilai sudah tidak layak. (USW/RK1)












